Subscribe

Jumat, 18 Desember 2009

Analisis Novel,Cerpen,Puisi Kontemporer



Nama : SURYA HADIDI
E-mail : surya_hadidi@yahoo.com
Friendster : uya_so7@ymail.com
Facebook : uya_so7@ymail.com
NB : Wajib tinggalkan pesan di halaman paling bawah
About Me







BAB I
PENDAHULUAN

Sastra Indonesia Kontemporer di dalam kamus bahasa inggris diistilahkan sebagai Contemporery Indonesia Literature. Istilah sastra kontemporer di dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Contemporery Literature.
Sastra Indonesia Kontemporer itu diartikan sebagai sastra yang hidup di Indonesia pada masa mutakhir atau sastra yang hidup di Indonesia pada masa kini,, atau sastra yang hidup di Indonesia pada masa mutakhir atau sastra yang hidup di Indonesia pada zaman yang sama.
Pengertian sastra Indonesia Kontemporer itu bemakna sangat relatif. Kerelatifan makna sastra kontemporer itu disebabkan oleh sejarah sastra Indonesia yang belum panjang. Disamping itu, pada pengertian sastra yang benar-benar mutakhir dalam arti hari ini hidup dan esok akan mati, ada pula sastra yang sekarang hidup dan tak sanggup terus bernafas entah sampai kapan. Pengertian mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu khusus untuk sastra yang benar-benar hebat.Meskipun demukian sedikit banyak sastra mutakhir merupakan ancang-ancang bagi sastra masa depan
( Budi Darma, 1990: 132).


BAB II
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN NOVEL KONTEMPORER
Dalam Kamus Istilah Sastra, Abdul Rozak Zaidin, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah menuliskan, novel dadalah jenis prosa yang mengandung unsure tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang, dan mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan (1994:136).
Novel kontemporer muncul dilatarbelakangi oleh adanya suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Persoalan kehidupan merupakan semangat munculnya sastra atau novel kontemporer. Demikian juga terjadi perubahan yang besar dan mendasar yang meliputi penulisan dan pencarian bentuk-bentuk pengucapan baru.
Pengertian novel kontemporer secara sederhana adalah :
- Novel yang hidup pada masa kini atau novel yang hidup pada waktu yang sama.
- Novel yang berusaha bergerak mendahului keadaan zamannya.




Pengertian novel kontemporer secara luas adalah :
- Novel yang menyimpang dari semua sistem penulisan fiksi yang ada selama ini atau yang bersifat konvensional.
- Novel yang menggarap masalah fiksi dan batin dengan pola yang aneh tetapi suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.
Berdasarkan dua pengertian novel kontemporer di atas, maka novel Indonesia kontemporer adalah novel Indonesia yang bentuknya menyimpang dari sistem penulisan fiksi di Indonesia selama ini dan yang menggarap masalah fiksi dan batin manusia Indonesia dengan pola yang aneh tetapi dengan suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.

Novel Indonesia kontemporer berciri sebagai berikut :
- Antitokoh
- Antialur
- Bersuasana misteri atau gaib
- Cenderung mengungkapkan transcendental, sufistik.
- Cenderung kembali ke tradisi lama atau warna local.



B. Biografi Novelis
Desi Puspitasari lahir di madiun, 7 November 1983. Sekarang sedang kuliah D3 Komunikasi-Advertising UGM. Hobinya fotografi, menulis, berkelana ke luar kota, mencari segala hal yang berbau gratisan atau paling tidak murah.
Saat kecil sangat menggemari novel-novel karya Enyd Blyton, R.L. Stine, dan Astrid Lindgren. Hobi menulisnya tersalurkan dan berkembang setelah bergabung dengan LFP Yogyakarta. Prestasi dan karya-karya yang pernah menang dan pernah dipublikasikan adalah “Little Susie” dimuat dalam kumpulan Cerpen Terpilih Balairung UGM (2003), “Laurence” dimuat dalam Kumpulan Cerpen Terpilih Balairung UGM (2004), Cerpenis terpilih Balairung UGM (2004), “Berawal dari Senyum” Juara I Lomba Cerpen Islami Fakultas Pertanian UGM(2004), “Gypsy Penari” (dongeng) dimuat dalam majalah anak kreatif (2005), “dfghd6u” juara II karya fiksi dalam kegiatan Week of Writing FMIPA UGM (2006).








C. SINOPSIS NOVEL “Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku”
Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku
Agus seorang anak tunggal yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta jurusan Akuntansi. Ia berasal dari keluarga yang berada, namun ia tidak sombong pada siapa pun. pulang pergi kuliah dengan mengendarai sepeda motor. Suatu hari motornya rusak, sopir yang biasa mereka panggil Pak Jiman itu menjemputnya dengan sedan mewah berwarna merah, lalu ia pun naik dengan mengatakan “seharusnya bapak tidak usah njemput, saya kan bisa pulang naek angkot” lalu bapak itu menjawab “Boten nopo-nopo kok, Mas Agus. Ini kan perintah Ibu. Ibu khawatir. Agus hanya bisa membalas senyuman Pak Jiman. Mobil melucur halus menuju rumah.
“Ibu,” sapa Agus sambil masuk ke rumah. Ia menyambut tangan Ibunya dengan mencium takzim. Lalu ia mengecup kening ibunya perlahan. Ibunya memendang penampilan putera satu-satunya yang selalu berpenampilan seperti pereman, rambut ikal gondrong serbahu yang diikat asal. Jaket kulit hitm yang membungkus erat. Helm standar hitam yang ditenteng dengan tangan terbungkus sarung tangan kuli. “Kuliah Gus?” dengan tatapan menyelidik.
Agus tertawa. Tentu, Bu,!” jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata. Ibu mengelus pipi puteranya yang terasa kotor tertutup debu jalanan.
“Kuliah di jalan?” Ibu menangkap maksud Agus, tersenyum geli. Agus menganguk mengiakan. Ia berlalu menuju kamarnya. “Shalat Maghrib, Gus, Ibu mengingatkan pelan. Sudah?”
Agus mengangguk sambil lalu. Capek Bu. Mau istirahat. Tanpa berkata-kata lagi Agus masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya. Ia segera merebahkan tubuh di atas kasur dan langsung terlelap. Ia tidak sempat mendengar batuk Ibu di kamar mandi.
Seperti hari-hari biasanya Agus, Angga, dan Joko melakukan balap liar. Suatu hari, ketika Agus dan Angga menuju bengkel Joko tempat biasa mereka nongkrong kalau mereka bolos kampus, karena tempat ini mereka anggap aman. Tiba-tiba motor mereka berhenti mendadak. Seorang Ibu di tepi jalan dengan muka panik, hamper menangis, berteriak parau. Copeeeet!!!
Ibu itu masih berteriak parau. “Mas, toloooonnggg…, “ibu itu berteriak pasrah, memohon pertolongan ketika melihat motor Agus dan Angga berhehtu di dekatnya.
Agus dengan sigap melompat turun dari motornya. Tanpa pikir-pikir panjang ia meleset mengejar pencopet itu.
Angga menatap heran. “Gus! Naik motor aja! Angga tidak tega meninggalkan Ibu itu sendiri. Akhirnya, ia turun dari motor dan menyimpan kunci motor milik Agus, ia memapah ibu itu, duduk di atas trotoar di pinggir jalan.
Agus terus mengejar pencopet itu. Agus menambah kecepatannya, kalau pencopet itu sampai di mulut gang dan ada bus yang lewat, ia khawatir pencopet itu masuk ke dalam bus dan tak terkejar lagi.
Seorang yang melihat dari mulut gang melihat tertarik. Wajah pencopet yang sudah tampak merah dengan peluh membanjir, membuat seorang itu mengmbil kesimpulan kalau orang itu adalah copet. Selain itu ia sedang memegang erat sebuah tas berwarna hitam lusuh, warna khas seorang ibu-ibu tua, dan berusaha menghindari kejaran orang di belakangnya Ia bersiap. Dan …
BUUGGHH…
Pencopet itu terpental. Ia terhuyung mundur. Belum sadar apa yang telah menonjok mukanya keras.Tanpa sempat dicegah, sebuah tendangan samping menghantam keras. Tepat di ulu hati.
Agus yang masih berkonsentrasi berlari di belakang pencopet itu tak sempat mengerem larinya. Sambil membelalakkan mata terkejut, ia jatuh tertimpa badan pencopet yang terjungkal ke belakang akibat tendangan itu. Ia jatuh berguling.
Dengan tenang seseorang yang menendang pencopet tadi memungut tas yang dijambret.
Agus mengerang kesakitan. Tiba-tiba saja telingenya yang baru ditindik berdenyut cepat. Menambah rasa sakit. Ia mendongakkan kepalanya. Melihat apa yang terjadi.
“Agus?”
Seorang itu memenggil namanya.
Agus menatap terkejut. Seorang gadis berkerudung putih bersih berdiri sambil memegang tas yang berhasil diselamatkannya. Matanya yang bulat bening menatap Agus prihatin.
Dunia seakan berhenti berputar . Agus mengerjapkan mata dan setengah berharap ini hanya mimpi. Tapi, sosok itu tetap berdiri di depannya. Wajah lembut terbingkai kerudung putih, baju panjang melambai pelan, sinar matahari menyeruak dari tengah kegelapan dan jatuh menimpa tatapan gadis itu. Tidak, ini bukan manusia biasa. Ini bidadari yang menjelma ke dunia. Agus merasa dadanya berdegup kencang dan nafasnya menjadi sesak.
”Airin?” suara Agus terdengar parau. Benarkah ini Airin yang dulu? Beberapa tahun perpisahan waktu mampu mengubah gadis itu menjadi semkin menawan!
Agus kembali mengerjapakan matanya, tak percaya. “Airin ya?”
Agus menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia teringat masa mereka di SMA sewaktu ujian Airin duduk di belakang Airin dan di sebelahny adalah Udin. Agus merasa sangat sial karena baik sewaktu belajar maupun ujian dia tidak pernah duduk bersebelehan dengan orang lain kecuali Angga yang selalu membantunya. Tiba-tiba saja ujian kali ini guru mengubah susunan duduk mereka sehingga ia bersebelahan dengan Udin yang sangat pelit.
Karena Udin tidak mau membantunya, ia pun berusaha dengan teman yang lain. Dalam kebingungannya ia menoleh ke belakang, siswi dalam kerudung putih bersih mendongak dari atas kertas jawaban, merasa ada yang menatapnya. Mata mereka beradu, namun dengan perlahan AirIn menundukkan kepalanya.
Gadis itu…oleh Agus ditempatkan durutan terakhir pada daftar orang yang pernah diajak bicara. Kriteria alim yang disandang airin membuat agus malas mengajaknya bicara. Tapi kalau keadaan sudah mendesak…bisa saja gadis itu berada diurutan paling atas untuk diajak bicara dimintai jawaban tepatnya pikir Agus licik.
“Airin..,” bisik Agus sambil sesekali menoleh ke depan. Mengawasi guru.
Airin mengetahui maksud Agus, dengan tatapan Agus kea rah lembar jawaban, akhirnya dengan pelan Airin menggeserkan kertas jawabannya ke dekat Agus.
Agus bersorak dalam hati! Gadis itu memang baik hati, puji Agus dalam hati. Dengan cekatan ia membaca tulisan rapi milik Airin dan segera menylin jawaban.
Ia sedang menagumi mata Airin yang bulat dan jernih, hitam berkilau tajam. Terasa tidak enak yang menyenangkan. “matamu indan Rin, jangan pernah untuk mencoba menutupnya sedikitpun,” desis Agus pelan, tak sadar.
Perlahan mata itu melempar pandangan ke balik punggung Agus, member isyarat. Agus mengerjakan matanya dan mulai tersadar, namun terlambat. Pak guru menarik kertas Agus dan merobeknya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Agus hanya menatap tak percaya kertas jawabannnya yang sudah tak berbentuk meluncur ke lantai. Agus melirik geram kea rah Udin disanpingnya. Airin menatap pprihatin, dengan perlahan ia menarik kembali kertas jawabannya.
Makasih apa? Tanya Airin, heran. Agus menjawab pertanyaan itu sambil menunjuk pencopet yang sudah tekapar. Ibu itu mengucapkan terima kasih pada Agus, Agus mengtakan bukan saya buk, sambil menunjuk Airin.
***
Agus_teman sekolah Airin dan Dewa_teman kuliah Airin mempunyi rasa yang sama pada Airin, mereka bertiga mengetahui hal itu. Sampai suatu hari mereka berantam hingga babak belur dan akhirnya mereka untuk memutuskan bersaing secara sehat.

Agus sangat sayang pada ibunya, ia bolos kuliah, balap liar dan sebagainya guna untuk mengembalikan perhatian ayahnya yang tak ada lagi untuk mereka, ayahnya lebih sering keluar kota untuk mengurusi proyek-proyeknya. Namun usaha yang dilakukan Agus tidak sia-sia, walaupun dalam jangka waktu yang lama akhirnya ayah kembali perhatian pada ibu walaupun ketika ayah member perhatian itu keadaan ibu sudah sakit-sakitan.
Banyak masalah yang dihadapi Agus, namun Agus tidak putus asa menghadapi masalah-masalah tersebut. usaha untuk mendapatkan cinta Airin pun semakin bulat.
“Kamu mau ke rumahnya Gus!” seru Angga tak percaya. Agus masih terngiang pertenyaan temannya itu.
“Kau tahu siapa Airin kan?! Bapaknya haji, Ibunya juga. Airin juga sepertiny…. ”ulang Angga.
“Aku tahu, Ngga. Mesti haji siapa tahu bapaknya dulu pereman juga seperti aku. Berani ke rumah cewek dan mengungkapkan perasaannya.”
Angga terbahak, “Bapak irin pereman?” ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Masa sih?” ia terbahak,” Mimpi kamu Gus!”
Agus kembali mengangkat tangannya yang terbungkus sarung tangan dari kulit. Sebelah tangannya yang bebas, menahan helm,dikempit di bawah ketiaknya. Agus memantapkan hati memencet bel.
Teeett…
Agus menunggu. Peluhnya mengaliir, ia memencet bel itu lagi.
Teeet…eett
Teeett teeett…
Teeeett…teeett…..
Agus menyengir, ia bermain-main dengan bel itu agar gugupnya berkurang. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti nada lagu yang dilantunkan pelan dari mulutnya. Pencetan bel menyesuaikan nada lagunya.
Teett … teeet…teeet…
Teettttt… teeeet…..
Teeeet….
Pintu pagar segera teruka, Agus melonjak terkejut menurkan tangannya. Ia tersenyum menyapa gugup seorang bapak berambut putih menatap geram kea rah Agus. Agus nyengir lebar meminta maaf karena telah bermain-main dengan bel rumah.
Ia melihat bapak itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Agus kembali tersenyum lebar, memandang bapak tersebut yang dianggapnya tukang kebun. Agus mengangguk sopan. Bapak itu tidak membalasnya. Agus menggeram kesal dalam hati, tukang kebun yang sombong.
“pagi Pak, Airannya ada?” Tanya agus biasa, jika hanya berhadapan dengan tukang kebun, apa yang harus ditakutinya.
Bapak itu masih melotot memandanag curiga kearahnya.
Agus sedikit salah tingkah.Agus menelan ludah gugupnya.
Bapak itu memandanhi Agus. Lalu menoleh kearah rumah. “Airiiinn!” panggilnya keras.
Agus terkesiap. Jantungnya berhenti berdetak, satu jawaban pasti, dai itu…
“Ya, Ayah,” Airin menyahut panggil itu dari dalam rumah.
Airin mendekati ayahnya yang berdiri di pintu gerbang. Ia menatap heran, kenapa beliau tidak mempersilahkan seseorang yang berada di luar pagar tersebut. airim melongokkan kepala keluar melalui celah diantara ayahnya.
Perut Agus mulas. Mengejang senang, melihat wajah manis Airin yang menyembul keluar. “Hair in,’ sapa Agus gugup.
Airin melongo heran. Ia tidak menyangka seseorang itu adalah Agus. Ia tertawa melihat wajah temannya itu yang basah keringat.
“Itu Agus, Yah. Teman Airin,’ jelas Airin, masih dalam tawa. “masuk Gus,” tawar Airin.
Agus mengngguk berterima kasih.
Ayah airin menatap Agus sekali lagi lalu melangkah pergi masuk ke rumah, sambil sekali lagi menoleh curiga ke arah Agus.
Airin kembali tertawa.
Agus masuk ke halaman rumah mengikuti Airin. Ia melemparkan pandangan ke sebelah kanan halaman rumah. Lalu mengangguk sopan kea rah ibu Airin yang sedang jongkok di halaman mereka.

Agus mengangguk, ia Rin, “mumpung hari Minggu nggak kuliah.” Jawab Agus sekenanya. Dalam hati ia tertawa. Tidak hare minggu pun ia jarang kuliah.
Airin ingin membuat minum untuk temannya, karena peraturan dari ayahnya, bila teman-tema anaknya dating, maka ia sendiri yang membuatkan minum.
Langkah Airin tertahan, ia heran melihat Warni membawa minuman dari dalam. Airin hamper bertanya, protes, tapi Warni berbisik cepat. Disuruh ayah.
Airin mengangguk mengerti, lalu tertawa pelan. Penampilan Agus memang ajaib, pantas saja Ayah sangat khawatir.
Ibu tertawa melihan kepanikan di wajah Ayah.
“Ada apa ini Gus?” Tanya Airin
“Agus nyengir, malu dan bingung menjelaskan maksud dan tujuannya.
Airin menunggu.
‘Anu Rin…” Agus menelan ludahnya gugup. Dengan tangan gemetar ia meraih es the dan segera meneguknya.
Ayah Airin menambah kepanikan Agus…
Agus melihat waktu yang tepat, ayah Airin sudah masuk ke rumah, dan akhirny ia mengucapkan...
“Maaf kalau nanti bikin Airi kaget.”
Airin mengangguk, tidak apa-apa.
Agus mengembus napas untuk kesekian kalinya, “Sebenarnya_”
“nak Agus suka melihara burung? Tanya ayah Airin tiba-tiba sambil berjalan dari pintu samping.
Konsentrasi Agus buyar.
Agus menoleh. Ia merendahkan suarany, berbisik cepat, setengah berharap Airin dapat mendengar suaranya, “Aku mencintaimu, Rin.”
Akhirnya mereka sama-sama diam.
Ayah Airin menoleh heran, “lho, kok diam-diaman lagi?
***
“Gus,” panggil Airin perlahan
Agus menoleh biasa. Ekspresi wajah datar.
Aku tidak mencari pacar, Gus”
Agus mendongakkan kepalanya. Menatap Airin yang masih menunduk.
“Yang hanya untuk bersenang –senang sementara saja.” Airin melanjutkan. “Tapi yang kucari seorang imam yang kucari seorang imam yang bisa membimbingku dan keluargaku besok untuk meraih syurga.”
Agus tersohok mendengar kata imam, padahal tadi dia mengaku lupa bacaan shalat. Mungkin ia berda diurutan terakhir untuk menjadi kandidat imam yang dicari Airin.
“Mbak Airin mencari pasangan hidup, Mas.” Tiba-tiba Warni sudah diantara mereka dan berkomentar tanpa diminta.
“Aku mengerti, Rin! Aku akan berusaha! Aku janji pada diriku sendiri.!” Janji Agus, menguatkan hatinya agar tidak hancur.
Airin membalas janji itu dengan senyum manis.
Airin memanggil orang tuanya, dan Agus pamitan pulang.
Ketika itu,Dewa dari kemudi mobil, menatap tak percaya kepergian Agus dari rumah Airin.
“Siang Mas Dewa?” sapa Pak Dal sambil tersenyum.
Dewa membalas senyum Pak Dal. ‘Airin ada, Pak?
“Ada, Mas. Silakan masuk!” Pak dal menyingkir,member jalan pada Dewa untuk masuk ke dalam rumah.
Keluarga Airin cukup mengenal Dewa. Dewa dan teman-teman sering main ke rumah Airin. Tapi kali ini lain, ia memantapkan hati untuk dating ke rumah Airin mempunyai tujuan kurang lebih sama seperti kedatangan Agus tadi. Dan jawaban yang di beri Airin juga sama.
***
Agus menghentikan motornya di depan tepi gang, di halaman depan mushola kecil itu. Setelah Agus ter tidur pulas.
Maaf, Nak…,” Bapak itu tidak melanjutkan karena tidak mengetahui nama Agus.
“Agus, Pak.”
“Bapak membangunkan Nak Agus?” Bapak itu meminta maaf sambil kembali tersenyum.
“Tidak apa-apa, pak.”
Allah emang hebatya, Nak! Hanya dengan wudhu saja perasaan sedih bisa hilang. Pikiran kita jadi jernih lagi. Apabila kita bersungguh-sungguh shalat, sepertinya setiap masalah diberi jalan keluar.
Agus mengangguk-angguk, mengiakan sambil lalu,. Kemudian dengan malas-malasan ia bangkit menuju ke tempat wudhu.
Setelah wudhu, ia tersenyum lega sambil masuk ke musola. Ia duduk terpekur di dinding tempat dia tidur tadi. Menemani bapak itu dalam kesyahduan dini hari.
Tiba-tiba tanpa Agus sadari,ia sujud. Entah kekuatan dari mana yang menyuruh untuk melakukan sujud itu. Agus merasa kepalanya dipijat-pijat perlahan ketika dahinya menyentuh karpet tempat ia sujud. Rasa pusing yang melandanya hilang perlahan. Ia juga dapat merasakan gerakan halus aliran darah bermuara ke kepalanya. Entah kenapa ia merasa badnnya sangat hangat.
Airi, senyum Airin, cintanya untuk Airin, harapan airin, Ibu, Bapak, Ibunya yang sedang sakit,Angga, ngetrek, perkelahian dengan Dewa, rasa sakit dalam hatinya. Semua bayangan berputar cepat di bayangan Agus.
Agus terisak pelan.

Perlahan bayangan itu mulai menghilang. Agus merasakan Sesutu yang dingin menyentuh dan menyejukkan hatinya.isakannya mereda, kembali ia bernapas lega.
Agus bangkit dari sujudnya, sejenak diam takmenyadari apa yang terjadi pada dirinya. Tapi ia merasa hatinya luar biasa.
Bapak tua itu tersenyum dalam gumaman doanya, tanpa berpaling kea rah Agus.
Aku mencari pasangan hidup, Wa. Hati Dewa terasa teriris ketika melihat Arin tetap tersenyum manis ketika mengucapkan kata-kata itu.
Karena aku tidak mau pacaran,Wa. Airin kembali tersenyum ketika mengucapkan kata-kata itu. Sempat terbersit dipikiran Dewa, semua alas an itu dipakai Airin untuk menolak dirinya karena ia lebih memilih Agus. Tapi sisi hatinya yang lain berkata,jika Airin lebih memilih Agus, tentu Agus tidak pergi dari rumah Airin dengan kesetanan seperti itu. Gadis bodoh! Kalau gadis itu tidak mau pacaran bagaimana ia bisa menemukan pasangan hidupnya. Tetapi saat itu Airin hanya kembali tersenyum manis. Berharap Dewa dapat mengerti maksud dari semua peerkataannya tanpa harus menjelaskan. Akhirnya Dewa melampiaskan semua masalah ini dengan jalan pintas yang aernah ia tempuh yaitu dengan minum-minumankeras.
***
Satu tahun berlalu.
Kepala Airin terasa berputar pelan. Namun, ia menggelengkannya perlahan. Berharap kesadarannya segera pulih. Dan berhasil, Ia tidak sempat pingsan mendengar kata-kata ayahnya. Wajahnya memanas menahan haru.

Dia melamarmu, Nak! Memintamu sebagai isterinya. Ayah jawab, saya harus bertanya pada Airin dulu. Keputusan tetap di tangan Airin, saya sebagai orang tua hanya akan merestui dan memilihkan yang terbaik untuk anak saya.
Ibu tersenyum, menenangkan Airin.
Mata Airin berkaca-kaca, suaranya bergetar. “Lalu menurut ayah?”
Ayah berdeham sejenak. “Ayah kira pemahaman dia bagus.” Ayah memberi tes surat-surat Al-Qur’an, dan dia lolos. Ayah bertanya masalah-masalah yang ada sekarang ini, dengan bijak ia member komentar dan solusi.”
Airin mengangguk-angguk. Mengerti. Rasa bahagia terselip dalam hatinya.
***
Sore itu angin berdesir perlahan. Sesekali Airin memicingkan matanya, silau. Matahari sore masih terasa menyengat hangat. Pohon kamboja putih mengangguk-angguk perlahan sambil sesekali menjatuhkan bunganya yang wangi menusuk. Aroma wangi yang berbeda.
Agus menggenggam erat tangan Airin. Ia menunduk sambil membaca doa dengan khusuk. Airin ikut berdoa mengikuti suaminya. Tidak ada alasan baginya untuk tidak mendoakan seorang yang sangat istimewa di hati suaminya itu.
“Ibu, maafkan semua kesalahan Agus. Tapi sekarang Agus merasa sangat bahagia, airin telah mehjadi isteri Agus. Tapi sayang, Ibu tidak sempat hadir da hari bahagia itu. Agus rindu Ibu. Agus berdoa ibu tenang di sana dan dapat ikut merasakan kebahagiaan yang agus rasakan.”

Agus menangkupkan kedua belah tangannya. Ia mengirim doa agar ibunya diberi kelapangan di sana. Setelah mengamini semua doanya, tangan Agus tergerak untuk menyebar potongan bunga mawar dan kenanga di atas pusara sang ibu. Dengan sigap Airin membantu suaminya mengambil bunga itu. Ia ikut menabur bunga di atas pusara sang ibu.
Agus menggandeng tangan isterinya, perasaan hangat dan nyaman menyusup di hati. Airin sedikit menengadahkan kepalanya. Ditemani desir angin sore, Agus mengecup pelan kening Airin_isterinya.

TAMAT










D. ANALISIS NOVEL “Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku”
Mengapa novel ini dipilih penulis untuk dianalisis sebagai tugas akhir mata kuliah “Sastra Indonesia Kontemporer?”
Memang banyak novel kontemporer yang tak kalah menarik untuk dianalisis, namun ada hal tertentu yang menggugah hati penulis untuk menganalisis novel ini.
Penulis berkeinginan menganalisis sastra yang bernuansa religi, namun tidak sebatas religi, tetapi amanat yang ingin disampaikan lebih mengena dalam kehidupan kaum remaja yang dianggap rentan terhadap masalah-masalah ini. Dari beberapa novel kontemporer yang dibaca penulis, novel ini lah yang sangat menggugah untuk kalangan remaja hususnya maha siswa. Berikut ini akan dipaparkan kekontemporeran dari novel yang berjudul “Ku temukan Engkau disetiap Tahajudku”
Salah satu ciri novel kontemporer yaitu antitokoh. Ciri tersebut terdapat pada novel ini. Yang dimaksud antitokoh pada Novel ini bukanlah kehadiran tokohnya yang kurang jelas atau tidak ditemukan sama sekali.
Namun, antitokoh dalam novel ini dikarenakan sifat/karakter tokoh yang ada dalam cerita ini berbeda pada watak yang ada dalam novel pada umumnya dan pada masyarakat pada umumnya. Karakter yang berbeda ini bukanlah menggambarkan manusia bersifat seperti binatang, malaikat, tumbuhan, dan lain-lain, namun watak tokoh mencerminkan watak manusia secara fitrah, tetapi watak inilah yang dianggap tidak masuk akal, aneh, gila, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, masyarakat pada umumnya menganggap sifat yang normal dianggap tidak noramal, sifat yang waras dianggap gila, dan lain sebagainya.
Tokoh utama yang bernama Airin ketika ada pria yang mengungkapkan perasaannya, ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mencari pacar/tidak mau pacaran walau alasan apapapun. Masyarakat umum menganggap karakter ini aneh, bodoh, naif, dan lain sebagainya. Bagaimana dia ingin mendapat suami, sedangkan dia tidak pacaran?”
Kalau kita melihat kasus di atas dari kaca mata masyarakat pada umumnya. Keputasan Airin ini kita anggap salah, tetapi dari pandangan agama islam, hal tersebutlah yang benar. Karena islam mengajarkan, untuk menemukan jodoh yang telah ditetapkan Allah bukanlah melalui proses pacaran, tetapi proses ta’aruf .
Aku tidak mencari pacar, Gus. Yang hanya bersenang-senang sementara saja. “airin melanjutkan. “ tapi yang aku cari adalah seorang imam yang bisa membimbingku dan keluargaku untuk meraih syurga.” (Novel hlm 114)
Agus merasa sakit hati dan bisa dikatakan stres, merasa bersalah karena dia khawatir hubungannya dengan Airin menjadi pecah karena perbuatannya. Menurut penulis hal tersebut fitrah manusia dan akan terjadi pada semua orang yang mengalami kasus yang sama. Namun yang menjadi perbedaan penyebab terjadinya kekontemporeran pada tokoh Agus yaitu menyelesaikan masalah tersebut, ia menyelesaikan masalah tidak seperti kebanyakan orang yang dengan merusak dirinya sendiri: misalnya dengan minum-minuman keras, narkoba, dan lain sebagainya, atau dengan menyakiti orang tersebut misalnya dengan melonterkan makiaan kepada orang yang menolak.
Tetapi Agus hanya mengatakan, “ Aku mengerti, Rin! Aku akan berusaha! Aku janji pada diriku sendiri”! dia mengatakan itu bukan dari hati, tetapi hanya saja ia tidak ingin meluapkan rasa sakit hatinya dengan kata-kata kasar. Walaupun akhirnya dengan izin Allah ia berubah menjadi seorang yang diimpikan Airin.
Aku mengerti, Rin! Aku akan berusaha! Aku janji pada diriku sendiri.!” Janji Agus, menguatkan hatinya agar tidak hancur.(Novel hlm 115)
Ayah Airin membuat peraturan yang sangat bijaksana, dimana ia membuat peraturan agar anaknya harus membuat minuman sendiri untuk temannya. Hal ini yang sekarang jarang terjadi, karena orang tua pada umumnya menganggap hal seperti ini sudah ketinggalan zaman, mereka menganggap pembantulah yang menghidang untuk setiap tamu yang datang. Padahal, kalau seorang anak dibiaskan membuat minuman untuk temannya, berarti secara tidak langsung orang tua melatih anaknya.
Ayah Airin menetapkan peraturan, teman Airin yang membuatkan minum Airin sendiri. (Novel hlm 97)
Ayah Airin menyuruh Warni_adik Airin untuk menemani Airin agar tidak berdua-duaan dengan teman pria nya. Orang tua yang bijak sepantasnya melakukan hal yang sama, karena selain ajaran agama pastilah hal ini sangat bermanfaat, karena ayah airin sangat khawatir sebab kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak diinginkan sangat besar ketika pria dan wanita berdua-duaan tanpa mukhrim, lebih baik mencegah daripada mengobati. Hal yang sama seharusnya dilakukan semua orang tua.
Pokoknya kamu harus keluar, terus ngobrol yang lama sama Mbak Airin atau temannya. (Novel hlm 98)

Ketika Agus menjumpai ayah Airin untuk melamar Airin, beliau member tes hafalan Al-Quran dan bertanya tentang permasalahan yang ada saat ini. Hal ini jarang kita jumapai pada masyarakat pada umumnya. Masyarakat pada umumnya, ketika seorang ayah ingin menerima lamaran seseorang, ia selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan materi, misalnya apa pekerjaanmu? berapa pengahasilan per bulan? dan lain sebagainya. Seolah-olah kebahagiaan itu dengan materi. Memang, kita tidak bisa menafikkan, pada system sekular ini segala-galanya memerlukan materi/uang, tapi yang perlu kita ingat bahwa tidaklah materi di atas segala-galanya sehingga kita tidak percaya lagi dan tidak ingat pada Sang Pencipta yang Maha atas segalanya. Tes yang diberikan ayah Airin mencerminkan bahwa ia menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Ayah sempat memberi tes hafalan surat-surat Al-Quran, dan dia lolos. Ayah bertanya tentang masalah-masalah yang ada sekarang ini. Dengan bijak ia berkomentar dan member solusi.(Novel hlm 160)
Setelah memberikan beberapa tes kepada Agus, ayah Airin tidak langsung menerima lamaran Agus, walaupun menurut beliau, Agus sudah memenuhi syarat sebagai menantu/pendamping anaknya dan Agus juga menunjukkan keseriusannya untuk memperisteri Airin. Namun ayah Airin mengatakan keputusan tetap datangan Airin, karena ia menyadari bahwa kewajiban orang tua yang tarakhir mencari/memilih jodoh yang terbaik untuk anaknya bukan memaksakan pilihan yang dianggapnya cocok.

Dia melamarmu, Nak! Memintamu sebagai isterinya. Ayah jawab, saya harus bertanya pada Airin dulu. Keputusan tetap di tangan Airin, saya sebagai orang tua hanya akan merestui dan memilihkan yang terbaik untuk anak saya.(Novel hlm 159)
Ciri yang membedakan novel kontemporer dengan konvensional yaitu antialur, anti alur disini dimaksudkan tidak adanya kejelasan alur yang digunakan pengarang sehingga pembaca pemula sulit memahami isi cerita. Namun, disitulah salah satu letak keindahan dan keasyikan membaca novel kontemporer.
”Airin?” suara Agus terdengar parau. Benarkah ini Airin yang dulu? Beberapa tahun perpisahan waktu mampu mengubah gadis itu menjadi semakin menawan!
Agus kembali mengerjapakan matanya, tak percaya. “Airin kan?”
Agus menggaruk-garuk kepala yang sebenar-benarnya tidak gatal. Ia menatap geram sepuluh soal di hadapannya. Ia tak dapat berpikir. Ia tak dapat mengira apa jawaban yang benar. Parahnya lagi, ia tak dapat mengarang jawaban ngawur yang setidaknya membuat kertas ujiannya tidak tampak kosong.
Agus melirik jawaban teman disampingnya. Dengan sigap Udin, yang biasanya tidak pernah duduk sebangku dengan Agus, dan hari ini merupakan hari sialnya karena harus duduk bersebelahan, menutupi kertas jawabannya. Ia tak rela Agus mencontek jawabannya dengan mudah. Agus mengomel perlahan, mengata-ngatai Udin pelit. Omelan itu dijawab dengan delikan kesal.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Sambil mengusap-ngusap kepalanya yang terasa pusing, agus mencoba untuk bangkit berdiri dengan susah payah. Ia menatap sedikit heran kepada Airin yang tak sama sekali membantunya berdiri. Tapi kemudian ia mengabaikan perasaan itu
Cuplikan di atas menunjukkan bukti salah satu alur yang tidak beraturan atau antialur. Titik-titik itu menunjukkan adanya beberapa paragrap yang dihilangkan. no.1 dan 2 merupakan Paragraf yang dikutip penulis, paragraph itu menceritakan kejadian yang sedang terjadi. Sedangkan no.3 dan 4 sampai titik-titik menceritakan kejadian sewaktu di SMA.
Kalau kita membaca novelnya langsung, kejadian sewaktu SMA diceritakan sampai berlembar-lembar, lalu no.5 paragraf yang menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Hal itu lah yang menyebabkan kebingungan pembaca sekaligus ciri kekontemporerannya. Kalau kita membaca langsung novelnya, banyak kejadian-kejadian seperti itu kita jumpai.








BAB III
CERPEN KONTEMPORER
Cerita pendek adalah salah satu cerita rekaan atau fiksi yang sudah tua usianya. Oleh karena itu, perkembangan pengertian cerita pendek itu perlu diketahui. Demikian juga tentang sejarah cerita pendek Indonesia, khusus mula dan perkembangannya.

A. PENGERTIAN CERITA PENDEK
Pengertian cerita pendek telah banyak dibuat dan dikemukakan oleh pakar sastra, sastrawan. Memang membuat defenisi cerita pendek itu tidaklah mudah. Walaupun demikian, akan diterakan beberapa pengertian cerita pendek yang dikemukakan oleh mereka. Dalam buku tifa penyair dan daerahna, H>B Yassin mengemukakan bahwa cerita pendek ialah cerita yang pendek Jassin lebih jauh mengungkapkan bahwa tentang cerita pendek ini orang boleh bertengkar, tetapi cerita yang seratus halaman panjangnya sepuluh atau duapuluh halaman asih bisa disebut sebagai cerita pendek, tetapi ada juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu halaman.
Pengertian yang sama dikemukakan oleh sumardjo dan saini di dalam buku Apresiasi kesusastraan. Mereka berpengertian bahwa cerita pendek adalah cerita pendek, tetapi hanya melihat ari fisiknya yang pendek orang belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuh cerpen.
Sumardjo juga mengemukakan pengertian cerita pendek di dalam bukunya catatan kecil tentang menulis cerita pendek. Ia berpengertian bahwa cerita pendek adalah sebuah fiksi yang pendek yang selesai dibaca dalam ” sekali duduk”. Cerita pendek hanya memiliki satu krisis dan satu efeck untuk pembacanya. Untuk indonesia cerpen terdiri dari 4 sampai dengan 15 halaman folio.
Pengertian cerita pendek yang dikemukakan oleh H.B. Jassin, sumardjo dan saini diatas tidak berbeda jauh dengan cerita pendek Edgar Allan Poe. Dia terkenal, bukan hanya karena karya-karya kreatifnya, melainkan karena konsep-konsep sastranya. Salah satu konsepnya yang penting tidak lain mengenai cerpen. Ia mengatakan bahwa cerpen adalah karya sastra yang tidak panjang, cukup dibaca sekali duduk, bertitik berat pada suatu masalah dan memberi kesan tunggal.. Demikian beberapa cerita pendek atau cerpen secara singkat atau sederhana.

Berdasarkan pengertian cerita pendek yang sederhana dan luas yang dikemukakan di bagian terdahulu , ciri khusus cerita pendek dapat dibeberkan sebagai berikut :
a. Ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu dan intensif.
b. Unsur-unsur utama cerita pendek adalah adegan, tokoh dan gerak.
c. Bahasa cerita pendek haruslah tajam, sugestif, dan menarik perhatian.
d. Cerita pendek harus mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung.
e. Sebuah cerita pendek haruslah menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa jalan ceritalah yang pertama-tama menarik perasaan, kemudian menarik pikiran.
f. Cerita pendek harus menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca.
g. Cerita pendek mengandug detail-detail dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja dan yang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanaan yang timbul dari pikiran pembaca.
h. Dalamsebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama mengausai cerita
i. Cerita pendek harus mempunyai pelaku utama
j. Cerita pendek harus mempunyai efek atau kesan yang menarik
k. Ceritapendek harus bergantung pda suatu situasi
l. Ceita pendek memberikan suatu impresi tunggal
m. Cerita pendek memberikan suatu kebulatan efek
n. Ceritapendek harus menyajikan satu emosi
o. Jumlah kata yang terdapat dalam cerita pendek biasanya dibawah 10.000 kata.

B. SEJARAH CERITA PENDEK INDONESIA
Di Indonesia, bermula pada tahun 1930-an. Sebelumnya bentuk karya sastra berupa cerita pendek ini tidak dikenal. Pada awal pertumbuhannya, cerita pendektidak terlepas dari pengaruh dongeng dlam masyarakat lama. Yang ditulis dalam cerita pendek masa ini adalahperistiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan sehari-hari yang berisi seloroh yang mampu membuat orang ketawa. Menulis cerita pendek belum dimaksudkan kedalam sebagai kegiatan mencipta sastra, melainkan pekerjaan sampingan. Dalam masyarakat masa itu cerita pendek terutama berfungsi sebagai teman duduk atau sebagai teman bergelut belaka. Di dekade 1930-1940, kita temukan beberapa penulis cerita pendek Indonesia, seperti Muhammad kassim, Suman Hs, Armijn Pane, dan Idrus.
Dengan lenyapnya pengaruh cerita pendek Muhammad kassim dan Suman Hs, lepas pula tali perhubungan tentang cerita rakyat indonesia. Mulailah dimulai penulisan cerita pendek dengan menggunakan konsep barat. Perkembangan cerita pendek indonesia mulai subur ketika awal 1950-an. Pengarang cerita pendek banyak ditemukan. Buku kumpulan cerita pendek banyak diterbitkan. Pada masa ini banyak ditemui penulis cerita pendek. Bentuk cerita pendekjuga beragam, termasuk bentuk inkonvensional tau yang disebut sebagai cerita pendek kontemporer

C. PENGERTIAN CERITA PENDEK INDONESIA KONTEMPORER
Cerita pendek indonesia bermula dari cerita anekdot, lalu cerita perang dan lukisan masyarakat. Oleh karena itu analisis konvensional secara penuh bis diterapkan. Cerita pendek harus ada ceritanya , ada tooh yang berkarakter, ada plot dan setting, dan suspense, dan ada surprise. Semenjak Muhammad Kassim dan Suman HS hingga cerpenis 1960-an dalam penciptaan dan penulisan tetap menerapkan konsep cerita pendek konvensional. Cerita pendek konvensional adalah cerita yag struktur ceritanya sesuai dengan konvensi yang ada.
Tetap dengan perkembangan jenis atau genre sastra yang lain, para cerpenis juga melakukan inovasi. Cerita –cerita pendek kontemporer muncul tidak selalu mengikuti pola cerita- cerita pendek yang ada, tetapi mereka berusaha menemukan pengucapan diri dengan inovasi yang matang. Dalam sastra indonesia modern, cerita pendek kontemporer itu dimulai berkembang pada 1970-an. Pada masa ini , pertumbuhan kreatifitas yang luar biasa terjadi dalam penulisan crita pendek. Cerita pendek mempunyai tedensi yang baru baik dari segi pengucapan maupun tama-tamanya.
Konsep sstra Indonesia kontemporer, khususnyakonsep cerita pendek kontemporer dapat dikatakan sebagai protes terhadap kepincangan- kepincangan masyarakat pada awal industrialisasi. Disamping itu, protes terhadap pengaruh negatif yang disebabkan oleh perkembangan ilmu dan pengetahuan dan teknologi. Akibat langsung pengaruh negatif itu dalah terjadinya krisis sosial, krisis politik. Krisis ekonomi dan krisisi nilai. Krisis itu menimbulkan anarkisme, skeptisme, individualisme, ketidak tentuan nilai dan sistem.
Hal yang melatar belakangi munculnya cerita pendek kontemporer itu dalah pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Hal itu ditandai oleh semangat modern. Sedangkan semangat kontemporer lebih dijiwai oleh persoalan kehidupan manusia.
Cerita pendek Indonesia Kontemporer adalah cerita pendek yang berisikan kehidupan manusia Indonesia ag terasing dari dunianya karena gencetan suasana metropois, yang pemberontak, yag berada di tengah-tengah pergulatan niali-nilai saing bertentangan yang membuktikan bahwa manusia mempunyai potensi-potensi unik.
Contoh-contoh cerita pendek Indonesia Kontemporer adalah cerita pendek Umar Khayam dan Putu wijaya. Cerita pendek Khayam kebanyakan hanya menyajikan suasana, manusia terasig dari dunianya karena gencetan suasan metropolis. Cerita pendek lainnya yaitu karya Putu Wijaya. Cerita –cerita pendek Putu wijaya mencerminkan manusia pemberontak. Tatapi manusia yang di gambarkan oleh putu adalah manusia ide. Cerita pendeknya penuh dengan ide.


D. CIRI-CIRI CERITA PENDEK INDONESIA KONTEMPORER
Berdasrkan pengertian cerita pendek Indonesia kontemporer dapat diuraikan sebagai berikut :
Pertama, cerita pendek Indonesia Kontemporer berciri anti logika. Cerita pendek anti logika diartikan sebagai menyalahi dasar logika manusia pada umumnya. Cerita pendek disjikan secara tidak lazim dan berbeda dengan cerita pendek biasa atau cerita pendek inkonvensional. Oleh karena itu, cerita pendek kontemporer sering juga disebut sebagai cerita pendek inkonvensional.
Kedua, cerita pendek Indonesia kontmporer berciri mengabaikan plot atau alur cerita. Pola urutan cerita pendek konvenional seperti pembukaan, klimaks,, antiklimaks tidak diikiti lagi.. Plot atau alur cerita, cerita pendek indonesia kontemporer bersifat zigzag atau semeraut. Misalnya daam cerita pendek Umar Khayam, pembukaan cerita dijumpai, tetapi tidak diikuti dengan pembinaan keteganganmenuju ke arah klimaks.
Ketiga, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri absurd atau serba aneh. Cerita pendek dikatakan absurd karena berbagai karakteristiknya seperti alaur dan peristiwanya serba tidak jelas, tidak menentu, tidak logis menurut urutan logika seharihari. Dalam perkembangan leksikon , absurdisme identik dengan ketidak jelasan, ketidakmenentuan, ketidak masuk akalan. Contoh cerita penek kontemporer yang tidak absurd adalah cerita pendek Budi Dharma dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Orang-orang Bloomington yang terbit padataun 1980.

Keempat, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri anti tokoh, atau tokohnya jelas atau tidak jelas bukan persolan. Tokoh-tokoh cerita adalah tokoh-tokoh cerita imajiner, manusia yang tangguh, tahan terhadap benturan waktu, keadaan dan situasi.
Kelima, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri terasing dan serba konpleks. Ciri-ciri ini dapat dibaca dalam cerita pendek yang berisi realitas kehidupan sosial dan ekonomi yang serba kompleks. Didalam cerita pendek Hamsyad Rangkuti, Lukisan Perkawinan seorang wanita yang menyangkut perjuangan, penderitaan dan impian mereka
E. Biografi Cerpenis
Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1990, dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti.
Tahun 1990, mantan staf Litbang Senat Mahasiswa UI ini memperoleh berdirinya Teater Bening.
Buku yang telah terbit: Sebab Sastra yang Merengutku dari Pasrah(1999), Ketika Mas Gagah Pergi(1997), Mc Alliester (1996), Kembara Kasih (1999), Manusia-manusia Langit (2000), Titian Pelangi (2000), Akira (2000), Pangeranku (2000), Wanita yang Mengalahkan Setan (2002)Lelaki Kabut dan Boneka (2002), dan lain-lain.
Ia juga terpilih sebagai Tokoh Muslimah Berprestasi Bidang Penulisan , versi Majalah Amanah tahun 2000. Buku Lelaki Kabut dan Boneka terpilih menjadi juara satu Anugera Karya Terpuji 5 tahun FLP.


F. SINOPSIS CERPEN “KADO PERNIKAHAN”
Kado PernIkahan
Dulu waktu pertama kali Mas Pram melamarku sudah ku katakana padanya bahwa aku, katakanlah sama sekali hampir sama sekali tak menguasai keterampilan kewanitaan.
“Sungguh aku nggak bisa masak, nggak bisa jahit, merawat tanaman, atau prakarya apapun namanya….”
Dia Cuma tertawa dan mengatakan bahwa manusia itu berproses dan bisa bila belajar. “Pokonya yang paling penting kita bisa jihad bareng!” katanya waktu itu.
Woo, aku sih semangat saja! Tapi…
***

Setelah nikah aku belum rutin memasak, Alhamdulillah banyak anteran. Aku Cuma sering ngangetin. Tapi biar bagaimana aku tetap mesak nasi. Terkadang nasinya kelembekan, lain waktu kekerasan. Tapi Mas Pram tidak pernah menggerutu. Cuma senyum.
Dua minggu setelah menikah, praktis aku mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan mengurangi jam terbangku selama ini. Kalau ada waktu luang, aku buka resep makanan,mencari menu yang sehat, lezat,dan murah, lantas mengolahnya. Nemun… entah mengapa hasilnya sering aku umpeti. Kumakan sendiri. Habis sering kali rasa dan bentuknya jadi tak karuan. Padahal aku sudah coba teliti mengikuti petunjukyang ada di buku!
“Ibu itu mewarisi bakat Nenek, pintar seklali memasak. Sampai-sampai kalau ibu yang masak, hamper bisa dipastikan makan Mas selalu nambah,’ cerite Mas Pram suatu ketika. Saat itu ia baru saja berhasil membebaskan diri dari mimic wajah yang sangat serius selesai memakan ikan pesmol buatanku.
Aku diam saja dan menunduk dalam-dalam. Ikan pesmol ku itu terlalu kuning warnanya, keasinan dan kepedasan. Malah bentuknya hancur berantakan lagi! Ya wajarlah kalau Mas Pram teringat masakan ibunya.
“Sudah baik,” kata Mas Pram sambil tersenyum. “Insya Allah besok lebih enak. Yuk, Mas buru-buru, nih! Ditunggu sama Abdullah!”
Dan Mas Pram berangkat dengan wajah merah. Ya, kepedasan. Aku mencoba tersenyum. Menganterkan sampai pintu. Kuliahat badan Mas Pram yang dulu tegar semakin kurus. Ya, semakin kurus! Astaghfirullah, aku jadi merasa bersalah. Bagaimana nggak kurus, pekerjaannya, kegiatan dakwahnya, jalan-jalannya begitu banyak dan sering… tapi Mas Pram selalu makan sepiring, dengan nasi yang porsinya setengah! Malah tak pernah nambah.
Tiba-tiba air mataku menetes. Sudah dua bulan menikah, hamper tak ada kemajuan dalam bidang olah pangan untuk mujahidku ini! Dan ia semakin kurus.
***

Sebenarnya Mama juga yang berperan hingga masalah ini timbul. Sejak aku kecil, Mama melarangku dekat-dekat dapur. Pegang sapu saja dilarang. “Nanti tanganmu kasar,’ kata mama. Begitu lah sampai aku berangkat remaja. Seabreg-abreg kegiatan aku ikuti. Teater, karate,cinta alam, dan lain-lain. Semuanya sering membuatku keletihan, soalnya waktu itu aku mencoba total dalam kegiatan tersebut. pergi pagi pulang malam. Mama pun tak pernah protes. Kesannya aku lumayan dimanja. Hamper semua dikerjakan pembantu.
Dan… peteka yang lebih besar terjadi. Sejak aku terpilih menjadi ketua OSIS dan komandan upacara di SMA, semua bilang aku semakin gagah. Ya cara jalanny, cara bicaranya, sampai-sampai cara bertindak! Malah temanku kebanyakan lelaki. Astaghfirullah…
Ketika aku mulai berjilbab, habis-habisan aku berbenah diri menjelang citra muslimahp gemilang. Tetapi yang aku heran menurut akhwat, kesan gagah itu masih saja terpancar. Malah ada seorang mbak yang menyindirku. Kata beliau aku ini belum keummian, tetapi keabiaan! Apa aku senang? Na’udzubillah… aku sedih sekali! Aku mulai ke dapur mengambil alih tugas pembantu. Tapi mama, papa, adik sering protes kalau masakanku nggak enak!
Akhirnya waktu pun berlalu… Kian larut diri ini dalam aktivitas dakwah. Jam terbangku makin banyak daripada dulu saat masih larut dalam aktivitas semu. Ya, Alahamdulillah.. Tapi akibatnya, aku jadi terfokus pada aktivitas baca nulis dan mgider-ngider mengisi ceramah. Diriku kuperah disana. Dan… Jadi agak lupa dengan tugas kerumahtanggaan…
Begitu terjaga, seminggu kemudian menikah. Shock juga.
***
“Bagaimana, Bu Digdo, Bu Atin? Bagaimana, nih, Bu Roro. Setuju ndak dengan usul saya tadi?” aku tersenyum. Jadi ibu-ibu saya ajari baca Al-Qur’an. Gratis ya, Bu. Allah saja yang membalas saya, tetapi sehabis kita belajar Iqra’, bagaimana kalau Ibu-ibu gentian nolong saya? Mau nggak, Bu?”
“Mauu…!” Koor ibu-ibu serempak.
Make a dea! Alhamdulillah!
Kini seminggu dua kali, ditambah bila ada kesempatan lain,ibu-ibu disekitar rumah kami dengan senang hati mengajarkanku menu-menu murah, lezat ala mereka. Datambah lagi dengan kiat-kiat tertentu dalam masak yang enak. Terus kalau ada waktu luang mereka mengajarkanku menjahit.
“Lumayan, lho, Dik Nisa, kita jadi bisa bantu suami. Ya, kalau selama ini Dik Misa menulis, itu kan mikir. Tetapi kalau menjahit dan merajut atau strimin, sering kali kita nggak mikia. Ya. Dikerjakan saja,” kata Bu Digdo.
Aku tertawa. Alhamdulillah, tidak hanya para jilbaber yang membantu mengatasi masalah ini. Para ibu tersebut juga. Mereka senang mengajarku. Apalagi aku tak ragu Tanya ini itu. Tapi biar bagaimanapun aku tak mau menunjukkan wajah bodoh atau nggak bisa, dong!
Silaturrahmi tempat Ibu mertua kupersering. Kami memask bersama. Kuperhatikan betul caranya memasak. Apalagi menu-menu kesukaan Mas Pram. Sayangnya ibu tinggal cukup jauh dari kami, jadi jarang aku bisa memetik ilmu beliau.
“kafaah orang yang berbeda-beda, Kak nisa,” kata adikku tari! Uh, dasar aja si bungsu jilbaber ini sepeti aku juga. Agak gagah atu apalah.
***

Serius Mas Pram memperhatikan meja makan. Dahinya berkerut. ‘Apaan tuh, Dik Nisa?”
“Dreengg!” Aku tersenyum ceria.” Kwetiau goring ala Nisa!”
Mata Mas Pram Berbinar. “Wah, favorit, nih! Biasanya Cuma ibu yang memasaknya… ups… eng…afwan,” tampaknya Mas Pram tau kalau aku suka sensitive bila disbanding-bandingkan dengan ibundanya.
Aku masih tersenyum. Dan ini… capcay kesukaan Mas! Tidak seperti bulan lalu, sekarang potongan sayurnya sudah proporsional,” ujarku.
Mas Pram pun mulai menyantap itu semua.
“Gimana, Mas?” tanyaku was-was.
Ia tersenyum, kali ini lebih manis. “Alhamdulillah… tapi… eee…”
“Ada apa, Mas?”
Mas Pram membelalakkan matanya. Tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang sempat dikunyahnya. Meringis.
Aku terkejut! Bulatan garam setengah kelereng! Astaghfirullah…
Tetapi Mas Pram melanjutkan makannya. Dan… untuk pertama kalinya bapak itu nambah, Saudara-saudara! Aku bahagia sekali.
***

Lima bulan setelah pernikahanku. Segala sesuatunya Alhamdulillah mulai berjalan lancar. Kini Mas Pram lebih bergairah menjelang waktu makan. Sering ia pulang ke rumah jam sepuluh atau sebelas malam dan… belum makan.
“Mau makan masakan Nisa,’ katanya. Memang sejak awal pernikahan Mas Pram selalu istiqamah untuk makan di rumah dan tampak menghargai usahaku.
Di tengah waktu luang ku sempatkan bersilaturahmi ke rumah Ummu hamzah, Ummu Ibrahim, Mbak Ulfa dan lain-lain. Dengan senang hati kudengar kiat mengurus rumah tangga. Ya, betapa mulianya tugas ini. Subhanallah, tugas seorang istra, seorang ibu yang sangat besar kontribusinya dalam pergerakan umat. Woman behind man in kan sangat berpengaruh.
Oh ya, aku juga sudah siap-siap belajar yang lain. Contohnya masalah kehamilan, merawat anak, pokoknya banyak.
Hari ini genap setahun pernikahan kami. Jarum jam di ruang tamu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Mas pram belum pulang. Sambil menunggu Mas Pram, aku sibuk muraja’ah hapalanku, sementara kado manis yang kupersiapkan untuknya kuletekkan begitu saja di meja, tepat di sebelah vas bunga.
Pukul 00.15 Mas Pram pulang. Sapanya riang sekali.
Aku tertawa. “Adak ado buat Mas.”
“Dari siapa?”
“dari ahkwat. “
Mas Pram mengangkat alis,kemudian tersenyum. Sebelum duduk diraihnya bungkusan kado itu… dibukanya.
“Baju?” gumamnya.
‘Ada tulisanna Mas!”
“Dik, Pram ini asli buatan Nisa.”
Salam, Bu Digdo
Mas Pram nyengir. “Baju buatan Nisa?” katanya sekali lagi. Langsung dengan riang dicobanya baju itu. “Besok Mas Pram pakai.”
“Dan ini buat dik Nisa,” ujarnya tiba-tiba.
Lho? Aku terkejut, Mas Pram mengeluarakan secarik gulungan kertas dari tasnya.
Ku buka pelan-palan gulungan kertas itu. Lho, kok bentuknya kek piagam sih?
“Buat Dinda Nisa, terima kasih untuk kerja kerasnya. Mas selalu ridha.”
Disampaikan untuk istri kebanggaan.
Aku tak bisa menahan tawaku. Mas Pran juga. Oalaa, suamiku ini ada-ada saja. Ia membeli kertas dengan penghargaan dan menulisnya dengan tinta warna emas untukku.
Sungguh, ya Allah, ridhanya lebih berharga bagiku dari kado apapun pada hari setahun pernikahan kami ini. Alhamdulillah! Dan di bawah bayangan lampu, kulihat Mas Pram kian cerah.
Tamat
G. ANALISIS CERPEN “KADO PERNIKAHAN”
Dalam cerpen “kado pernikahan,” yang menyebabakan kekontemporeran cerpen tersebut yaitu antitokoh. Cerpenis menggambarkan watak tokoh yang sangat luar biasa, yang seharusnya dilakukan oleh setiap individu muslim. Novel yang dianalisis sebelumnya mengenai pra pernikahan dalam islam. Namun pada analisis cerpen, penulis memilih cerpen yang temanya kelanjutan novel tersebut. Kalau pada novel membahas bagaimana hubungan yang seharusnya dilakukan antara muslim dan muslimah sebelum diikat pernikahan, tetapi pada cerpen membahas bagaimana yang dilakukan muslim dan muslimah setelah pernikahan atau suami istri.
1. Nisa jujur ketika dilamar Mas Pram, ia mengungkapkan segala kekuranganmya. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Karena mereka menganggap, tidak baik membuka aib sendiri dan mereka juga khawatir kalau mereka mengungkakan kekurangannya seperti yang dilakukan Nisa, yang berniat melamarnya membatalkan niatnya. Padahal yang mereka lakukan itu yang salah dan seharusnya bertindak seperti Nisa sehingga dalam menjalani kehidupan yang baru tidak ada salah paham sehingga kemungkinan bercerai sangat kecil. Dan yakinlah apabila kita bertindak seperti Nisa, Insya Allah keluarga kita akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah karena ini lah yang sesuai aturan Allah yang menciptakan kita dan otomatis yang menciptakan kita lebih tau apa yang terbaik untuk yang diciptakannya, walaupun banyak hamba_Nya yang tidak memahami dan banyak juga yang mengingkari_Nya dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia dan ahirnya mengalami kekacauan dalam menjalankan hidup.

Dulu waktu pertama kali Mas Pram melamarku sudah ku katakana padanya bahwa aku, katakanlah sama sekali hampir sama sekali tak menguasai keterampilan kewanitaan. Sungguh aku nggak bisa masak, nggak bisa jahit, merawat tanaman, atau prakarya apapun namanya… (Cerpen hlm 1)
Nisa harus meninggalkan kebiasaan buruknya ketika ia masih bersama orang tuanya,dia berusaha menjalankan itu semua dan meninggalkan pola hidup manja ketika tinggal dengan orang tua serta dia berusaha lebih baik. Dia harus melakukan semua kewajiban istri. Dia juga tidak malu belajar akan kekurangannya itu, sehingga pada hari setahun pernikahan mereka, ia sudah mengalami perubahan yang drastis .
Dua minggu setelah menikah, praktis aku mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan mengurangi jam terbangku selama ini. Kalau ada waktu luang, aku buka resep makanan,mencari menu yang sehat, lezat,dan murah, lantas mengolahnya. ( Cerpen hlm 2)

Bagaimana, Bu Digdo, Bu Atin? Bagaimana, nih, Bu Roro. Setuju ndak dengan usul saya tadi?” aku tersenyum. Jadi ibu-ibu saya ajari baca Al-Qur’an. Gratis ya, Bu. Allah saja yang membalas saya, tetapi sehabis kita belajar Iqra’, bagaimana kalau Ibu-ibu gentian nolong saya? Mau nggak, Bu?”(Cerpen hlm 5)

Mas Pram mempunyai sifat yang patut di contoh, karena dia melamar atau memperistri eseorang tidak dilihat dari sisi materi atau ketrampilan tertentu karena menurutnya hal-hal seperti itu bisa dipelajari. Dia lebih mementingkan hal-hal yang benar-benar mendasar sebagaimana tujuan kita di dunia ini hanyalah tempat persinggahan menuju alam abadi-akhirat. Setelah menikah, ia konsekwen dengan janjinya untuk menerima Nisa dengan kekurangannya. Walaupun masakan istrinya bisa dikatakan tidak enak, tetepi ia tetap menghargai usaha istrinya , hal itu ditunjukkan dengan tindakannya yang selalu makan di rumah.
Dia Cuma tertawa dan mengatakan bahwa manusia itu berproses dan bisa bila belajar. “Pokonya yang paling penting kita bisa jihad bareng!” katanya waktu itu. (Cerpen hlm 1)

“Mau makan masakan Nisa,” katanya. Memang sejak awal pernikahan Mas Pram selalu istiqamah untuk makan di rumah dan tampak menghargai usahaku. (Cerpen hlm 7)

2. Tepat setahun pernikahan mereka,mereka saling member hadiah tanpa kesepakatan terlebih dahulu. Hal ini yang jarang terjadi, karena hari setahun tepat pernikahan mereka, mereka anggap momen yang tepat untuk introfeksi sekaligus motivasi. Sang istri memberikan kado dari hasil kerja kerasnya sehingga dia dapat memberikan kado sepotong baju yang dibutnya sendiri, sedangkan Mas Pram memberi kertas yang did lam nya berisikan penghargaan atas kerja keras Nisa.

Mas Pram nyengir. “Baju buatan Nisa?” katanya sekali lagi. Langsung dengan riang dicobanya baju itu. “Besok Mas Pram pakai.” (Cerpen hlm 8)

Ia membeli kertas dengan penghargaan dan menulisnya dengan tinta warna emas untukku. (Cerpen hlm 8)

BAB IV
PUISI KONTEMPORER

A. PENGERTIAN PUISI
Banyak pengertian puisi telah dibuat oleh pakar sastra. Pengertian yang dibuat mereka itu biasanya berhubungan dengan etimologi puisi, struktur fisik puisi, struktur batin puisi.
Dalam puisi dan metologi pengajaran,B.P Situmorang membeberkan bahwa perkataan puisi berasal dari bahasa yunani, yang juga dalam bahasa latin poeietes, mula-mula artinya pembangunan, pembentuk , pembuat. Arti yang mula-mula itu lama kelamaan semakin dipersempit jadi hasil seni sastra, yang kata-katanya disusun menurut irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan.
Dalam kamus istilah sastra, Panuti sudjiman menguraikan bahwa puisi adalah ragam bahasa yang teikat oleh irama, mantra dan rima serta penyusunan larik dan bait.
Dalam kamus istilah sastra, Abdul Rozak zaidah, membeberkan makna puisi, ragam sastra yang bahasanya terikat oleh rima dan tatapuitika yang lain, atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran dan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama dan makna khusus.

Pengertian puisi yang dibeberkan sebelumnya adalah pengertian puisi secara etimologis dan secar kamus umum dan kamus istilah. Jika diamati secara cermat kata puisi disinonimkan dengan istilah poetry. Pengertian puisi demikian adalah pengertian puisi secara tradisional. Pengertian yang demikian ini hanya berlaku untuk puisi-puisi lama atau tradisional, contohnya puisi dalam bentuk pantun.
Pengertian puisi menurut Clive Sansom memberikan pengertian puisi sebagai bentuk pengucapan bahasa yang ritmis yang mengungkapkan pengalaman intelektual yang bersifat imajinatif dan emosional. Herbert spencer seperti dikutip oleh Clive sansom memberikan pengertian puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan.
Dua pengertian puisi diatas berkaitan dengan bentuk fisik dan bentuk batin puisi. Bentuk fisik lazim disebut bahasa atau bentuk, sedangkan bentuk batin sering disebut isi atau tema Sepanjang sejarah, puisi itu mengalami perubahan disebabkan oleh selera dan konsep estetik.

B. PENGERTIAN PUISI KONTEMPORER
Istilah puisi kontemporer di padankan dengan istilah puisi inkonvensional, puisi masa kini, puisi mutakhir, istilah kontemporer di dalam puisi kontemporer tidak menunjuk kepada waktu walaupun di dalam kamus istilah itu berarti dewasa ini. Masa kini atau mutakhir , pengenaan atau penerapan istilah kontemporer pada puisi kontemporer lebih mengarah kepaa kehendak menunjukkan pada kondisi kreatif seniman di dalam mengolah dan menemukan idiom-idiom baru.
Jika yang berpendapat bahwa kontemporer pada puisi kontemporer menunjukkan pada waktu dan bukan pada model puisi tertentu, maka pendapat demikian itu perlu diluruskan atau diperbaiki. Mengertikan seni kontemporer atau lebih khusus kepada puisi kontemporer dengan memakai kurun waktu misalnya dari tahun sekian sampai dengan tahun sekian, merupakan langkah atau sikap yang gegabah, tidak setiap hasil karya atau puisi misalnya tahun 1970-an berhak disebut kontemporer elama di dalamnya tidak terdapat atau tampak ciri-ciri kontemporer.
Oleh karena itu, puisi kontemporer tidak menunjuk pada waktu. Didalam puisi kontemporer salah satu wajah yang penting adalah wajah eksplorasi dan sejumlah kemungknan baru. Kemugkinan baru itu antara lain lahirnya eksperimen berupa penjungkirbalikan kata. Penciptaan kata-kata baru. Penciptaan idiom-idiom baru, percobaan semantik dan sintaksis.
Puisi kontemporer tidak hanya terikat pada tema, tetapi juga terikat pada struktur fisik puisi. Berdasarkan keberadaan puisi kontemporer ini, maka pengertiannya, puisi yang muncul pada masa kini yang bentuka dan gayanya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi pda umumnya, puisi yang lahir di dalam kurun waktu tertentu yang memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya.
Puisi kontemporer adalah bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Misalnya, Sutardji mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada eksistensi bunyi dan kekuatannya. Danarto justru memulai kekuatan garis dalam menciptakan puisi.














C. PENGERTIAN PUISI INDONESIA KONTEMPORER
Jika pengertian puisi kontemporer itu di kaitkan dengan puisi Indonesia, maka puisi Indonesia kontemporer adalah puisi Indonesia yang lahir di dalam waktu tertentu yang berbentuk dan bergaya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi lama pada umumnya. Atau puisi Indonsia kontemporer adalah puisi Indonesia yang memiliki ciri-ciri nilai dan estetika yang berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya atau pada umumnya.

MUNCULNYA PUISI INDONESIA KONTEMPORER DI DALAM KHAZANAH KESUSASTRAAN INDONESIA
Istilah puisi Indonesia kontemporer mulai di populerkan pada 1970-an. Gerakan puisi kontemporer yang melanda dunia gaungnya terdengar di Indonesia dan memberi corak terhadap kehidupan puisi Indonesia pula.
Puisi Indonesia kontemporer di dalam dunia perpuisisan Indonesia dikejutkan oleh Sutardji Calzoum Bahri denga improvisasinya yag menjadi bahagian penting dari proses penciptaan puisi-puisinya. Berbeda dengan penyair-penyair sebelumnya, Sutardji mengebrak dengan puisi-puisinya bentuk-bentuk baru. Pembaharuan yang dilakukan sutardji benar-benar memberi wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi Indonesia.
Di dalam kredo puisinya yang diproklamasikan pada 30 maret 1973, Sutardji mengatakan kredo berasal dari bahasa latin credo yang berartiaku percaya, suatu pernyataan atau pengakuan.

KREDO PUISI SUTARDJI
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau di umpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau di umpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam. Dalam kesehari hari kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyanpaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan lupakan keudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisinya, dia membebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor, serta penjajahan gramatika. Bila kata-kata di bebaskan, kreatifitaspun di mungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yag kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbulah hal-hal yangtak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam penciptaan puisinya, ia membebaskan kata-kata. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan. Kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri., mundar mandir dan berkalikali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tidaka sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang kain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyusangkan sendiri dirinya dengan bebas. Saling betentangan sendiri satu sama lainnya. Karena merekabebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yag ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga sepanjang tidak menganggu kebebasnnya, agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksetuasi yangmaksimal. Menulis puisi baginya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Makamenulis puisi baginya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bahri
Bandung, 30 Maret 1973








D. SINOPSIS PUISI “AYAT-AYAT ALAM”

AYAT-AYAT ALAM
Berabad-abad wajah tuhan bertaburan
Jadi alat-alat alam yang berserakpada batu-batu
Tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda
Berabad-abad wajah tuhan bertaburan
Dalam serpihan cinta sekaligus sengketa

Beraba-abad pula adam gelisah
Mencoba menyatukan wajah tuhan
Dalam gambaran seutuhnya. namun
Selalu sia-sai. Sebab, tuhan lebih suka
Hadir dalam keelokan yang beraneka rupa

Pada keelokan pohon dan keindahan batu
Pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung
Pada wajah sepi seorang bayi dan hangat matahari
Dan pada wajah manis seora ng istri
Tuhan hadir dalam senyum abadi

Berabad-abad wajah tuhan bertebaran
Pada ayat-ayat alam yang selalu
Menemukan tafsir sendiri
JAKARTA,2007
AHMADUN YOSI HERFANDA








E. ANALISIS PUISI “Ayat-ayat Alam”
Dalam puisi “Ayat-ayat Alam” penyair menyampaikan mengenai alam dan Pencipta-Nya. Ia mengatakan bahwa sejak lama sekali bukti Tuhan ada bagi mereka yang mau berpikir. Bukti Tuhan itu ada yakni pada semua yang diciptakannya, dengan kata lain adanya seluruh dunia beserta isinya membuktikan adanya Sang Pencipta. Bukti Sang Pencipta sangat beragam, fotensi yang ada pada batu misalnya membuktikan salah satu Maha Kuasa Sang Pencipta.
Tuhan memberi tanda-tanda kebesarannya dengan banyak fotensi-fotensi yeka yang ada di alam. Tanda-tanda ini sudah lama ada (mulai ada dunia), tetapi hal ini akan selalu menjadi cinta pada sebagian orang dan sebagian lagi menganggap sengketa atau hal ini selalu ada yang menganggap ini sebagai bukti Sang Maha Pencipta sehingga tidak perlu dipermasalahkan atau ala mini harus dijaga dan dilestarikan, namun sebagian kekisruhan karena ini.
Berabad-abad wajah tuhan bertaburan
Jadi alat-alat alam yang berserakpada batu-batu
Tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda
Berabad-abad wajah tuhan bertaburan
Dalam serpihan cinta sekaligus sengketa



Sudah sekian lama pula manusia mencoba mencari wujud nyata Sang Pencipta, namun sia-sia dan sampai kapan pun tetap sia-sia, karena Tuhan mempunyai sifat ghaib dan takkan menunjukkan wujud¬-Nya di dunia ini karena itu sudah sunnatullah/ketentuan Allah. Tetapi sudah ketetapan-Nya pula bahwa dia hadir pada saat kapanpun dan dimanapun kita berada.
Beraba-abad pula adam gelisah
Mencoba menyatukan wajah tuhan
Dalam gambaran seutuhnya. namun
Selalu sia-sai. Sebab, tuhan lebih suka
Hadir dalam keelokan yang beraneka rupa
Semua yang ada di alam ini merupakan tanda-tanda kebesaran zat tertentu yang hanya Dia yang dapat membuat ini semua. Batu, pohon, ombak, gunung,wajah seorang bayi, adanya fotensi pada matahari , dan lain sebagainya merupakan tanda-tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan semua yang ada di alam ini akan menunjukkan kebesaran-Nya apabila kita mau memikirkan-Nya.
Pada keelokan pohon dan keindahan batu
Pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung
Pada wajah sepi seorang bayi dan hangat matahari
Dan pada wajah manis seora ng istri
Tuhan hadir dalam senyum abadi

Berabad-abad wajah tuhan bertebaran
Pada ayat-ayat alam yang selalu
Menemukan tafsir sendiri













DAFTAR PUSTAKA

Pustpita Sari, Desi. 2006. Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku. Hikma. Jakarta

Tiana Rosa, Helvi. 2004. “Kado Pernikahan”, dalam “Kado Pernikahan” (Kumpulan Cerpen).
Syamil Cipta Media. Jakarta

Parmonangan NST, Ahmad. 2007. “Ayat-ayat Alam”, dalam “Medan Puisi”.
Laboratorium Sastra Medan. Medan

Purba, Antilan. 2001. Sastra Indonesia Kontemporer. USU Press. Medan



1 komentar:

Sucy Bayu mengatakan...

sinopsis kok ad kutipan,,,
kan sinopsisi itu yang bercerita adalah orang ketig(yg pernah membaca novel) menggunakan bahasa sendiri